Seni Kearifan Budaya Lokal Nganjuk

 "Tradisi Sadranan dan Kesenian Wayang Krucil"



Nganjuk adalah sebuah kota yang berawal dari kata Anjuk Ladang, yang artinya tanah kemenangan dalam bahasa jawa kuno dan menyimpan banyak sejarah dan juga peninggalan-peninggalan sejarah. Letak Nganjuk berbatasan dengan Bojonegoro di sebelah utara, Jombang dan Kediri di sebelah timur, Ponorogo di selatan, dan Madiun di sebelah barat.


Nganjuk juga di beri julukan sebagai " kota angin ". Dijuluki sebagai kota angin karena Kabupaten Nganjuk berada di antara dua gunung yaitu, Gunung Wilis dan Gunung Arjuno. Hal tersebut membuat frekuensi angin di daerah Nganjuk sangat tinggi. Terutama saat pergantian musim hujan ke musim kemarau dan sebaliknya. Angin kencang sering melanda Kabupaten Nganjuk.


Selain itu di kota Nganjuk juga memiliki tradisi atau kesenian lokal yang masih terjaga kelestariannya. Beberapa tradisi yang masih terjaga kelestariannya adalah tradisi tingkeban, tradisi sadranan, tradisi wetonan, ritual ruwatan dan mandi di air terjun pada satu suro ( 1 Hijriyah ). Selain itu beberapa kesenian yang masih terjaga adalah seni tari mung-dhe , seni tayub , seni wayang krucil dan lain sebagainya.


1. Seni Wayang krucil

Wayang krucil adalah kesenian dari bahan kulit dan berukuran kecil sehingga lebih sering disebut dengan Wayang Krucil. Wayang ini dalam perkembangannya menggunakan bahan kayu pipih (dua dimensi) yang kemudian dikenal sebagai Wayang Klithik.

Wayang Krucil dibuat dari kayu Mentaos berbentuk pipih. Mula-mula, kayu dipotong dan dibuat papan agak tebal. Setelah itu, papan kayu diberi gambar, diukir dan diberi cat sesuai tokoh wayang yang akan dibuat. Wayang Krucil berbeda dengan Wayang Kulit. Pada Wayang Krucil, memiliki ketebalan 2-3 Centimeter, sedang Wayang Kulit sekitar 3 milimeter. Boleh dikatakan, bentuk Wayang Krucil mengarah tiga demensi. Karena itu, karakter tokoh Wayang Krucil terkesan lebih bernyawa dibanding Wayang Kulit. Pada Wayang Kulit (purwa), satu wayang mewakili satu tokoh atau satu karakter dan memiliki satu nama. Sedangkan, pada Wayang Krucil Sri Guwak ini satu wayang bisa berganti-ganti memerankan beberapa tokoh dan karakter. Untuk mementaskan kesenian itu, diringi perangkat gamelan Mardi Laras dengan 20-an pemusik (penabuh) dan 5 pesinden (penyanyi).

Wayang Krucil semakin tergusur dan sulit dijumpai. Kecuali, dalam acara-acara ritual yang berkait dengan bersih desa dan nadar. Pada puncak kejayaannya, Wayang Krucil tersebar hampir di seluruh daerah (desa dan kecamatan) di Nganjuk, bahkan sampai di kawasan Kabupaten Kediri. Tetapi kini tinggal tersisa beberapa saja. Salah satunya, Wayang Krucil milik Paguyuban Mardi Laras di Desa Garu Kecamatan Baron, sekitar 15 km sebelah timur Kota Nganjuk. Wayang Krucil satu-satunya yang tertinggal di Nganjuk itu dikenal sebagai Wayang Krucil Garu, karena tinggal dan berkembang di Desa Garu. Wayang Krucil dianggap sebagai bagian dari keberadaan desa sehingga berlangsung turun-temurun, dianggap sakral, sehingga harus selalu dipentaskan dalam upacara bersih desa setahun sekali. Kesakralan dan malati Wayang Krucil Garu terwujud dalam bentuk pagelaran yang harus disertai sesajen khusus.

Cerita Wayang Garu Nganjuk mengambil beberapa sumber, diantaranya cerita yang berkaitan dengan Kerajaan Kediri, cerita rakyat tentang pemberontakan kepada Belanda, cerita dari Serat Menak yang diadaptasi dari Persia yang berkaitan dengan perkembangan agama Islam, sumber cerita dari Mahabarata, hingga cerita yang dibuat dalang sendiri atau dikenal sebagai lakon carangan. Yang membanggakan adalah Wayang Krucil Nganjuk sudah dikenal sampai di Jerman.Seni tradisi Wayang Krucil ini mempunyai nilai-nilai budaya yang tinggi. Kesenian ini tak hanya mengangkat cerita-cerita sejarah, tetapi juga memuat aspek moral dan etika. Sekaligus berperan sebagai media hiburan rakyat.


2. Tradisi Sadranan

  Tradisi Nyadran merupakan suatu budaya mendoakan leluhur yang sudah meninggal dan seiring berjalannya waktu mengalami proses perkembangan budaya sehingga menjadi adat dan tradisi yang memuat berbagai macam seni budaya. Nyadran dikenal juga dengan nama Ruwahan, karena dilakukan pada bulan Ruwah. Tradisi ini dilakukan untuk menyambut bulan Ramadhan. Tradisi Sadranan dilakukan dengan mengadakan sesi dia untuk leluhur dan kerabat yang telah meninggal agar dosa-dosanya dapat diampuni dan amalnya dapat diterima.

Kata nyadran maupun Sadran keduanya berasal dari bahasa sansekerta dari kata Sadra yang kemudian karena perjalanan zaman mengalami perubahan lisan Nyadran atau Sadran. Kata Sadran mempunyai arti ziarah kubur. Tradisi ini merupakan suatu tradisi masyarakat Jawa sejak zaman Hindu-Budha.

 Dalam acara Nyadran hampir semua warga masyarakat ikut melaksanakan tradisi ini tanpa memandang perbedaan status dan agama yang dianut. Tradisi ini dilakukan dengan membersihkan , dan merapikan makam. Tradisi ini juga dilakukan dengan membuat kue tradisional seperti, kue apem dan ketan. Sesuai membuat kue tradisional tersebut, kue kemudian akan dibagikan kepada kerabat.


Sumber seni wayang krucil:

- https://www.slideshare.net/fatzmha/kearifan-lokal-kabupaten-nganjuk

Sumber tradisi nyadran:

- https://www.agtvnews.com/gaya-hidup/pr-584193648/6-tradisi-di-nganjuk-yang-masih-sering-dilakukan-hingga-sekarang-nomor-6-dipercaya-bisa-awet-muda-loh

- https://lk.umm.ac.id/id/pages/potensi-budaya-jawa-timur/potensi-budaya-jawa-timur-16.html



#TugasPekan5


#SMNBacth8


#Kopling

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Legenda putri wilis

Story With Writing